Mengompol memang lumrah pada bayi dan anak yang lebih kecil, ya Moms. Tapi normalkah bila sudah umur 6 tahun anak anda masih mengompol?Ternyata 75% kebiasaan mengompol (enuresis) berasal dari faktor keluarga. Anak laki-laki lebih sering dan lebih lama dalam fase mengompol daripada anak perempuan.
Biasanya kebiasaan mengompol akan hilang dengan sendirinya seiring pertambahan usia, karena telah matangnya fungsi anatomis tubuh si kecil atau karena faktor tuntutan lingkungan dan dia malu dengan teman sebayanya.
Namun, ada beberapa kasus yang terus mengalami masalah kebiasaan mengompol ini hingga beberapa tahun kemudian.
Pada dasarnya, mengompol di bagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Enuresis primer, berlangsung sejak dini/ bayi, si kecil terus menerus kencing di malam hari.
2. Enuresis sekunder, si kecil pernah berhenti mengalami enuresis primer selama beberapa waktu (minimal 6 bulan), namun karena faktor penyebab lain sehingga mengalami enuresis/ mengompol lagi.
Penyebab mengompol/ enuresis:
Memang sebagian besar kasus mengompol hanyalah merupakan kebiasaan si kecil, namun ada beberapa kasus yang disebabkan oleh penyakit yang lebih serius.
1. Enuresis primer: biasanya tidak ada masalah kesehatan yang mendasarinya. Murni didasarkan karena belum matangnya kemampuan otot saluran kencing untuk mengendalikan proses berkemih.
2. Enuresis sekunder: dapat disebabkan oleh berbagai sebab: - seperti infeksi - volume air kencing yang berlebih - tidur yang terlalu nyenyak - masalah gangguan tidur - gangguan saraf - gangguan mental/ psikis, ketakutan, kekhawatiran atau ketidaknyamanan di sekolah atau lingkungannya.
Berada dalam lingkungan baru, atau akan memiliki adik. Sering mendapatkan kekerasan fisik maupun mental. Kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan sebagainya - penyakit lain seperti Diabetes Mellitus - gangguan hormon ADH - atau susah buang air besar.
Penanganan.
Untuk menangani anak yang mengompol diperlukan ekstra kesabaran dan kasih sayang. Cobalah menghindari untuk menilai atau memberinya label karena kebiasaannya. Seperti: “Ih, Si A tukang ngompol.”
Membandingkan dia dengan teman atau saudaranya yang lain juga kurang bijaksana, Moms. Hal itu justru akan menurunkan kepercayaan dirinya dan membuatnya tidak nyaman. Bukannya menghilangkan kebiasaannya ngompol, justru akan memperparahnya.
Penanganan enuresis dapat dilakukan dengan:
1. Non obat. Pemberian motivasi, toilet training, latihan menahan kencing (bladder training exercise), terapi dengan menggunakan alarm, terapi psikis, atau terapi hipnotis.
2. Obat. Pemberian obat enuresis hanya bisa diresepkan oleh dokter atas indikasi/ penyebab tertentu, dan bila terapi non-obat tidak memberikan hasil optimal. Untuk mengobati anak yang mengompol, jelas kita harus tahu lebih dulu apa yang menyebabkannya, Moms, sehingga si kecil menerima terapi yang tepat. Penanganan yang tepat tentu saja akan meningkatkan kualitas diri si kecil saat dia dewasa kelak.
anak



