Showing posts with label balita. Show all posts
Showing posts with label balita. Show all posts
Saturday, August 23, 2014
Memilih Makanan Selingan Yang Sehat Untuk Bayi Dan Balita
Saturday, August 23, 2014
Makanan selingan adalah makanan ringan, bisa berupa kudapan/ snack maupun buah-buahan segar atau olahan buah, yang diberikan pada bayi, batita, dan balita.Makanan selingan berfungsi untk menambah atau mencukupi kebutuhan gizi makanan utama. Oleh karena itu, pemilihan jenis kudapan ini harus dipikirkan secara masak.
Waktu pemberiannya biasanya adalah diantara waktu makan pagi dan siang, atau waktu makan siang dan malam. Saat pemberian juga harus diperhatikan, jangan sampai makanan selingan malah membuat si kecil kekenyangan ketika waktu makannya telah tiba.
Berikan makanan selingan minimal 1 jam sebelum waktu makan utama.
Berikut beberapa syarat pemilihan kudapan bayi dan balita anda :
1. Kudapan/ snack hendaknya megandung zat gizi yang lengkap.
2. Makanan yang home made atau buatan sendiri lebih diutamakan, agar si kecil terhindar dari pengawet, perasa, dan pewarna makanan.3. Usahakan menghindari makanan instan/kemasan.
4. Jangan gunakan bumbu yang merangsang lambungnya.
5. Jangan meggunakan gula dan garam yang berlebihan. Lebih baik Moms memanfaatkan rasa alami dari bahan makanan tersebut.
6. Warna dan bentuk yang menarik tentu lebih disukai oleh bayi balita anda
Selamat membuat cemilan sehat, Moms..
Tuesday, June 3, 2014
Inilah Jadwal Imunisasi Terbaru 2014 Sesuai Rekomendasi IDAI
Tuesday, June 03, 2014
Friday, April 18, 2014
Tanda Dan Cara Mengatasi Anak Susah Buang Air Besar
Friday, April 18, 2014
Anak anda sering mengalami susah buang air besar, Moms?? Apa penyebab sembelit, apa saja tandanya, dan bagaimana mengatasinya?Apa sih sembelit?
Sembelit, susah BAB atau konstipasi memang sering terjadi pada anak-anak. Terjadi karena kurangnya kadar air dalam kotorannya, sehingga kotoran akan menjadi lebih kering dan sulit dikeluarkan.
Dikatakan sembelit apabila frekuensi bab kurang dari 3x dalam seminggu, atau konsistensi feses keras, sulit mengeluarkan kotoran dan atau anak mengejan selama lebih dari 10 menit tanpa dapat mengeluarkan feses.
Makanan yang telah diproses dalam lambung dan usus kecil akan terus masuk ke dalam usus besar. Di dalam usus besar atau kolon ini, sisa makanan akan mengalami penyerapan ulang zat gizi, vitamin dan air.
Bila makanan yang masuk kurang kandungan air, anak kurang minum atau kurang makanan berserat, air yang tersisa sangat sedikit untuk diserap oleh kolon. Akibatnya, feses/ kotoran menjadi terlalu kering sehingga sulit saat akan dikeluarkan.
Gejala sembelit:
1. Frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang. Bisa hanya 1 atau 2x dalam seminggu.
2. Rasa sakit atau tidak nyaman di perut yang akan hilang setelah BAB.
3. Kadang terdapat darah pada kotoran/feses.
4. Kotoran/ feses bulat-bulat kecil seperti kotoran kambing.
5. Akan akan mengejan lama dan disertai rewel akibat rasa nyeri di daerah anus.
Penyebab:
1. Pola makan yang kurang sehat. kurang serat, buah atau kurang cairan dapat membuat si kecil mengalami sembelit. Bila anda (ayah/ibu) juga mengalami sembelit, berarti ada kesalahan pola makan dalam keluarga. Memperbaiki pola makan akan sangat membantu
2. Si kecil terbiasa menahan keinginan BAB atau BAB tidak teratur.
3. Bila pada bayi, bisa jadi karena konsumsi sufor.
4. Bila terjadi sejak si kecil baru lahir, bisa juga disebabkan karena penyakit lain seperti Hischsprung (kelainan bawaan, yaitu kurangnya serabut saraf pada usus besar yang menyebabkan usus besar kurang bergerak).
5. Anak yang kurang aktif. Anak yang kegiatannya hanya duduk menonton atau bermain game lebih rentan terkena sembelit dibanding anak yang aktif motoriknya.
6. Konsumsi obat-obatan.
Penanganan:

1. Bila sembelit yang dialami si kecil berasal dari kebiasaan kurang baik dalam keluarga, sebaiknya segera ubah pola hidup anda sekeluarga menjadi pola hidup sehat dengan banyak makan sayur, buah, olahraga teratur dan sebagainya.
2. Ajak si kecil untuk aktif bergerak dengan bermain bersama keluarga atau temannya.
3. Pada bayi, berikan hanya ASI pada 6 bulan pertama.
4. Bila bayi anda telah mengkonsumsi MP ASI, masukkan sayur dan buah dalam pilihan menunya.
5. Minta si kecil untuk minum air putih lebih banyak.
6. Buat makan buah dan sayur menjadi kegiatan yang menyenangkan. Seperti mengolahnya menjadi makanan yang berbentuk lucu, membuatnya menjadi jus, agar-agar dan lainnya.
7. Berhenti mengkonsumsi makanan olahan dan kurangi makanan yang diproses melalui proses penggorengan.
8. Perbaiki pola BAB. Latih anak untuk BAB secara rutin setiap hari, agar kotoran tidak terlalu lama berada dalam kolon dan mengalami proses penyerapan air.
Makin lama feses berada dalam kolon, maka makin banyak air yang diserap, sehingga makin kering kotorannya, yang membuatnya makin sulit dikeluarkan.
9. Bila perlu, pada bayi yang hanya mengkonsumsi sufor, konsultasilah pada dokter spesialis anak anda tentang kemungkinan mengganti susunya.
Cara Efektif Mengajarkan Toilet Training Pada Anak
Friday, April 18, 2014
Untuk mencegah si kecil mengalami kebiasaan mengompol yang berkepanjangan, beberapa Moms mengajarkan toilet training sejak dini pada anaknya. Ada yang mulai sejak umur 1 tahun, 6 bulan, bahkan 2 bulan!!
Pentingkah toilet training?
Tentu saja Moms. Disarankan dilakukan saat anak berusia lebih kurang 1 tahun. Beberapa ahli menyarankan antara 18 bulan-24 bulan (1,6 tahun hingga 2 tahun).
Saat dia sudah mulai mengenali sensasi ingin kencing dan ingin pup/ BAB. Jangan terlambat untuk dilatih ya Moms, karena bila dilakukan lebih lambat, dikhawatirkan akan lebih sulit untuk mengubah kebiasaan dan perilaku anak.
Sebelum mengajarkan anak toilet training, perhatikan beberapa tanda bahwa anak anda siap untuk menjalani toilet training, yaitu:
1. Sudah mampu untuk duduk dalam jangka waktu tertentu.
2. Tertarik memperhatikan anda menggunakan toilet.
3. Sudah mengerti perintah sederhana.
4. Popoknya kering selama lebih dari 2 jam.
5. Dapat mengatakan pada anda atau memberi tanda khusus sebelum dia kencing atau pup.
6. Mulai tidak nyaman menggunakan popoknya saat basah.
Bagaimana cara mengajarkan toilet training yang efektif?
Berikut beberapa cara yang mungkin dapat membantu (Moms dapat menambahkan atau mengurangi disesuaikan dengan pengalaman, kebiasaan yang berlaku dalam keluarga anda).
1. Untuk mengajarkan toilet training, dibutuhkan kesabaran ekstra. Latihan ini membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
2. Pertama kali, ajarkan dulu kata-kata yang Moms ingin dia gunakan untuk memberitahukan pada anda, apakah pipis, kencing, bab, pup dan lainnya.
3. Jelaskan dulu fungsi dari toilet dengan bahasa sederhana. Misalnya saat anda membuang kotorannya di popoknya ke dalam wc.
4. Batasi penggunaan diapers. Diapers akan menyulitkan anak untuk berlatih toilet karena dia terlanjur merasa nyaman, si kecil juga akan sulit membedakan konsep basah-kering yang menjadi dasar toilet training.
5. Jangan paksa si kecil untuk langsung menggunakan pispot atau toilet khususnya. Bila dia sudah bisa memberitahu anda bahwa dia ingin kencing atau pup, ajak saja dia untuk masuk kamar mandi dan melakukannya di dalam kamar mandi, walaupun belum diatas wc.
6. Jangan terlalu lama mendudukkan anak di wc. Maksimal 5 menit. Terlalu lama akan membuat si kecil menjadi tidak nyaman, yang justru akan menyulitkan proses belajarnya. Perhatikan tanda saat dia membutuhkan untuk pergi ke wc, dan bawa dia segera sebelum pup atau kencingnya keluar.
7. Berikan makanan yang cukup mengandung serat, agar dia tidak mengalami konstipasi. Konstipasi akan memberikan pengalaman traumatis bagi anak.
8. Tanyakan pada anak setiap beberapa jam sekali apakah dia ingin kencing. 2-3 jam sejak kencing terakhir (atau tergantung dari usia anak) adalah waktu yang ideal untuk bertanya. Makin besar anak, jaraknya dapat semakin jauh. Jangan terlalu sering agar dia tidak merasa terlalu ditekan.
9. Bila dia sudah mulai terbiasa menggunakan toiletnya, biasakan dia untuk duduk disitu saat bangun tidur di pagi hari, setelah makan atau sebelum tidur. Untuk membantunya membiasakan diri buang air besar dan kecil secara teratur.
10. Beri pujian bila dia berhasil pup dan kencing dengan baik di toilet.
11. Jangan terlalu panik atau memarahinya bila dia kembali mengompol atau pup di tempat yang tidak seharusnya. Bersihkan saja dan tetap ajak dia ke wc secara teratur.
Semoga sukses dengan toilet trainingnya, ya Moms..
Pentingkah toilet training?
Tentu saja Moms. Disarankan dilakukan saat anak berusia lebih kurang 1 tahun. Beberapa ahli menyarankan antara 18 bulan-24 bulan (1,6 tahun hingga 2 tahun).
Saat dia sudah mulai mengenali sensasi ingin kencing dan ingin pup/ BAB. Jangan terlambat untuk dilatih ya Moms, karena bila dilakukan lebih lambat, dikhawatirkan akan lebih sulit untuk mengubah kebiasaan dan perilaku anak.
Sebelum mengajarkan anak toilet training, perhatikan beberapa tanda bahwa anak anda siap untuk menjalani toilet training, yaitu:
1. Sudah mampu untuk duduk dalam jangka waktu tertentu.
2. Tertarik memperhatikan anda menggunakan toilet.
3. Sudah mengerti perintah sederhana.
4. Popoknya kering selama lebih dari 2 jam.
5. Dapat mengatakan pada anda atau memberi tanda khusus sebelum dia kencing atau pup.
6. Mulai tidak nyaman menggunakan popoknya saat basah.
Bagaimana cara mengajarkan toilet training yang efektif?
Berikut beberapa cara yang mungkin dapat membantu (Moms dapat menambahkan atau mengurangi disesuaikan dengan pengalaman, kebiasaan yang berlaku dalam keluarga anda).1. Untuk mengajarkan toilet training, dibutuhkan kesabaran ekstra. Latihan ini membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
2. Pertama kali, ajarkan dulu kata-kata yang Moms ingin dia gunakan untuk memberitahukan pada anda, apakah pipis, kencing, bab, pup dan lainnya.
3. Jelaskan dulu fungsi dari toilet dengan bahasa sederhana. Misalnya saat anda membuang kotorannya di popoknya ke dalam wc.
4. Batasi penggunaan diapers. Diapers akan menyulitkan anak untuk berlatih toilet karena dia terlanjur merasa nyaman, si kecil juga akan sulit membedakan konsep basah-kering yang menjadi dasar toilet training.
5. Jangan paksa si kecil untuk langsung menggunakan pispot atau toilet khususnya. Bila dia sudah bisa memberitahu anda bahwa dia ingin kencing atau pup, ajak saja dia untuk masuk kamar mandi dan melakukannya di dalam kamar mandi, walaupun belum diatas wc.
6. Jangan terlalu lama mendudukkan anak di wc. Maksimal 5 menit. Terlalu lama akan membuat si kecil menjadi tidak nyaman, yang justru akan menyulitkan proses belajarnya. Perhatikan tanda saat dia membutuhkan untuk pergi ke wc, dan bawa dia segera sebelum pup atau kencingnya keluar.
7. Berikan makanan yang cukup mengandung serat, agar dia tidak mengalami konstipasi. Konstipasi akan memberikan pengalaman traumatis bagi anak.
8. Tanyakan pada anak setiap beberapa jam sekali apakah dia ingin kencing. 2-3 jam sejak kencing terakhir (atau tergantung dari usia anak) adalah waktu yang ideal untuk bertanya. Makin besar anak, jaraknya dapat semakin jauh. Jangan terlalu sering agar dia tidak merasa terlalu ditekan.
9. Bila dia sudah mulai terbiasa menggunakan toiletnya, biasakan dia untuk duduk disitu saat bangun tidur di pagi hari, setelah makan atau sebelum tidur. Untuk membantunya membiasakan diri buang air besar dan kecil secara teratur.
10. Beri pujian bila dia berhasil pup dan kencing dengan baik di toilet.
11. Jangan terlalu panik atau memarahinya bila dia kembali mengompol atau pup di tempat yang tidak seharusnya. Bersihkan saja dan tetap ajak dia ke wc secara teratur.
Semoga sukses dengan toilet trainingnya, ya Moms..
Thursday, February 20, 2014
Milestone Tumbuh Kembang Anak, Umur 1-5 Tahun
Thursday, February 20, 2014
Tumbuh kembang merupakan konsep yang berkesinambungan/ terus menerus, dari sejak konsepsi hingga dewasa.Proses ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang baik akan mendukung faktor genetik, sebaliknya, lingkungan yang buruk justru akan menghambat faktor genetik.
Berikut, adalah milestone anak usia 1-5 tahun, yang mencakup kemampuan sosial, bahasa, gerak kasar dan gerak halusnya.
Usia 12-18 bulan (1 tahun sampai 1 tahun 6 bulan) :
- Berjalan dan mengeksplorasi rumah.
- Menyusun 2-3 balok kecil.
- Dapat mengatakan 5-10 kata.
- Mulai menampakkan rasa cemburu dan persaingan.
- Suka menirukan orang dewasa.
Usia 18-24 bulan (1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun) :
- Naik turun tangga.
- Menyusun 6 balok.
- Dapat menunjuk mata dan hidungnya.
- Dapat menyusun kalimat yang terdiri dari 2 kata.
- Belajar makan sendiri.
- Dapat minum dari gelas.
- Dapat menggambar garis di kertas.
- Dapat menunjuk anggota tubuhnya.
- Mulai belajar mengontrol BAB dan BAK.
- Memperhatikan kegiatan orang dewasa disekitarnya, dan mulai menirukannya.
- Mulai dapat bersosialisasi dengan anak seusianya dan bermain bersama.
Usia 2 sampai 3 tahun :
- Meloncat, memanjat, melompat dengan 1 kaki.
- Membuat jembatan dengan 3 kotak.
- Mampu menyusun kalimat.
- Dapat menggunakan kalimat tanya.
- Menggambar lingkaran.
Usia 3-4 tahun :
- Berani/dapat berjalan sendiri kerumah tetangga sekitar.
- Bisa memakai dan melepas pakaian sendiri.
- Membuat garis silang.
- Bisa menggambar orang, walaupun hanya bagian kepala dan badan.
- Mengenal 2-3 warna.
- Dapat mengelompokkan benda sesuai dengan bentuk dan warnanya.
- Bicara dengan baik.
- Dapat menyebut nama, jenis kelamin dan umurnya.
- Banyak bertanya.
- Bertanya bagaimana anak dilahirkan.
- Mengenal konsep atas-bawah, depan-belakang.
- Suka mendengarkan cerita.
- Menunjukkan rasa sayang kepada saudaranya.
- Dapat melaksanakan tugas sederhana.
Usia 4-5 tahun :
- Melompat dan menari.
- Dapat menggambar orang yang terdiri dari kepala, badan, lengan.
- Dapat menggambar segi empat dan segi tiga.
- Lancar berbicara.
- Dapat menghitung jari-jarinya.
- Dapat menyebut nama hari dalam seminggu.
- Mendengar dan dapat mengulangi isi cerita.
- Bisa memprotes bila dilarang.
- Mengenal 4 warna.
- Mengenal konsep besar-kecil.
- Dapat mengendarai sepeda roda 3.
- Dapat menghitung objek berjumlah 10 atau lebih Untuk membantu proses tumbuh kembang anak, hendaknya orang tua dapat menstimulasi sendiri anak saat dirumah.
Stimulasi yang dapat anda berikan untuk anak usia 1-5 tahun, yaitu:- Pengenalan ruang, bentuk, warna, dan persiapan berhitung.
- Mengajarkan tentang sosialisasi, mengenalkan bagaimana bermasyarakat dan mencintai alam sekitar.
- Mengembangkan fantasi dan memperkaya pengalaman dengan cara bermain bebas dan bercerita.
- Menyanyi bersama.
- Menggambar.
- Sering mengajak anak bercakap-cakap.
- Bermain musik/mengajarkan alat musik.
- Mengenalkan beberapa tugas sederhana.
- Mengenalkan nilai-nilai social, kesopanan.
- Menagajarkan aktifitas sehari-hari, seperti makan, mandi, dll.
Friday, February 7, 2014
Anak Terlambat Bisa Bicara (Speech Delayed). Kapan Harus Waspada?
Friday, February 07, 2014
Keterlambatan bicara sering terlambat dideteksi oleh para orang tua, karena dianggap biasa dan akan menyusul teman seumurannya kelak.Speech delayed/keterlambatan bicara terjadi pada 5-10 % anak usia prasekolah, dan 3 hingga 4 kali lebih sering pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
Terlambat bicara dapat terjadi karena hal-hal yang normal dalam perkembangan atau karena kelainan pada si kecil.
Hal yang normal pada anak yang dianggap sebagai keterlambatan bicara seperti:
1. Jenis kelamin. Anak laki-laki umumnya memiliki kosakata yang lebih sedikit dan biasanya lebih lambat mulai berbicara sekitar 1-2 bulan dari anak perempuan.
Saat umur 16 bulan, perempuan memiliki 50 kata, sedangkan anak laki-laki hanya memiliki sekitar 30 kata saja. Anak perempuan juga kelihatan lebih 'ceriwis' daripada laki-laki. Namun hal ini adalah normal, dan anak laki-laki akan segera mengejar 'ketertinggalannya'.
2. Fokus pada kepandaian yang lain. Anak yang lebih dulu dapat berjalan, biasanya akan lambat berbicara, atau sebaliknya. Jika dia sudah lancar dengan skill-nya, maka akan segera mengejar ketertinggalannya di bidang bahasa.
3. Anak yang lahir prematur, dan atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Bayi prematur memiliki kemampuan yang lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Namun biasanya pada sekitar umur 2 tahun, dia akan memiliki kemampuan yang sama dengan teman sebayanya.
4. Anak yang diajarkan 2 bahasa atau lebih (bilingual). Biasanya anak akan mengalami 'kelambatan sementara' dalam berbahasa dibandingkan dengan teman seumurannya. Namun, biasanya keadaan mereka akan segera membaik dan mampu menguasai kedua bahasa tersebut sebelum berumur 5 tahun.
Penyebab terlambat bicara dapat beragam, diantaranya:
1. Masalah pada pendengaran.
2. Lingkungan, seperti penelantaran atau kekerasan pada anak.
3. Gangguan neurologi, seperti cerebral palsy, muscular dystrophy atau trauma kepala.
4. Autis.
5. Kelainan anatomi pada mulut, bibir dan atau langit-langit. Kelainan seperti bibir sumbing dapat mengganggu pelafalan kata yang benar.
6. Gangguan intelektual.
7. Malnutrisi/kurang gizi.
8. Masalah mental, seperti depresi atau anak yang mengalami gangguan kecemasan.
Untuk mengetahui gejala terlambat bicara, hendaknya kita tahu dahulu bagaimana tahapan perkembangan berbicara pada anak normal:
1. Bayi 0-6 bulan.
Komunikasi pertama bayi setelah lahir yaitu dengan menangis. Dengan tangisan, bayi menyatakan kebutuhannya, seperti mengantuk, lelah, lapar atau tidak nyaman seperti cuaca yang panas dan popok yang basah.
Saat umurnya 2-3 bulan, bayi mulai merespon suara anda dengan gumamannya seperti ‘aahh’ atau ‘oohh’, dan tangisannya sudah dapat dibedakan sesuai dengan kebutuhannya. Bayi mulai bereksperimen dengan suara-suara yang dihasilkannya, seperti ‘mamama’; ‘babababa’; ‘papapapa’ atau yang disebut babbling.
Pada umur sekian, waspadai bila si kecil anda tidak babbling.
2. Umur 6-12 bulan.
Saat umur 6-9 bulan, bayi mulai mengenal beberapa nama benda dan orang yang berada disekitarnya. Sudah mengerti konsep dasar seperti ‘ya’, ‘tidak’.
Usia 9-12 bulan, dia sudah dapat mengucapkan ‘mama’ dan ‘papa’ dan mengerti artinya (atau sebutan lain yang diajarkan untuk memanggil kedua orang tuanya).
Sudah dapat menggunakan isyarat untuk mengungkapkan keinginannya, seperti menunjuk benda, melambaikan tangan untuk ber-dadah, mengangkat tangan untuk minta digendong. Mengerti beberapa instruksi sederhana seperti ‘ayo kesini’ atau ‘lihat itu’.
Pada usia 12 bulan, bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.
Waspadai bila si kecil belum dapat menunjuk benda saat usianya menginjak 1 tahun, atau ekspresi wajah yang kurang pada usia itu.
3. Usia 12-18 bulan.
- Dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti.
- Dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan.
- Dapat mengangguk atau menggelengkan kepala saat menjawab pertanyaan.
- Dapat mengikuti istruksi sederhana, seperti ‘tolong ambilkan itu’ atau ‘tolong tutup pintu’.
- Usia 18 bulan, kosakata yang dapat diucapkannya sekitar 5-50 kata.
Bila saat usia anak 16 bulan dan belum ada kata yang berarti yang bisa diucapkan, anda harus waspada.
4. Usia 18-24 bulan.
- Dapat menggabungkan 2 suku kata yang berarti, seperti ‘saya makan’.
- Hampir setiap hari si kecil memiliki kosakata baru. Dan senang mendengarkan cerita.
- Pada umur 2 tahun, sekitar 50% kata-katanya sudah dapat dimengerti orang lain.
Waspada bila saat umur 2 tahun, si kecil tidak membuat kalimat dengan 2 kata yang dapat dimengerti.
5. Umur 2-3 tahun.
Dapat menyebutkan anggota badan. Bisa menyusun kalimat pendek. Dapat mengerti konsep besar dan kecil. Mulai dapat menggunakan kalimat tanya. Mengenal warna. Dapat bernyanyi.
6. Usia 3-5 tahun.
Sudah dapat menyusun kalimat panjang >4 kata. Dapat menyebutkan nama, alamat, jenis kelamin. Dapat bercerita tentang kejadian sekitar. Dan hampir semua kata yang diucapkannya dapat dimengerti oleh orang lain.
Apabila anak dicurigai mengalami speech delayed, segera periksakan si kecil ke dokter untuk mencari tahu penyebab dan dilakukan rehabilitasi secepatnya.
Makin cepat dilakukan terapi maka kemungkinan untuk dapat mengejar ketertinggalannya juga semakin besar, sehingga tidak akan mengganggu perkembangannya yang lain kelak.
Terapi yang dilakukan pada anak yang mengalami speech delayed bervariasi, tergantung penyebab dan bersifat individu. Artinya, antara satu anak dan anak lain yang sama menderita gangguan ini, penanganannya tidak sama.
Bila anda mencurigai anak anda mengalami keterlambatan bicara, berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan:
1. Seringlah mengajak bayi anda berbicara, karena apa yang dia dengar akan sangat berguna saat dia akan belajar bicara nanti
2. Hendaknya merespon saat bayi anda cooing atau babbling
3. Sering mengajak bayi permainan sederhana, seperti cilukba
4. Menyebutkan apa yang sedang anda atau si kecil lakukan, lihat atau rasakan
5. Sering membacakan buku cerita dengan suara keras
6. Menambah/ memperjelas kata-kata yang disebutkan oleh si kecil. Misalnya anak bilang ‘num’, perbaiki kosakatanya dengan mengatakan ‘Minum. Adik mau minum?’
7. Berilah pertanyaan sebanyak mungkin pada si kecil. Dan jawab pertanyaan atau perkataan anak anda
8. Jangan menertawakan bila anak anda menggunakan kata yang salah
9. Biarkan dia bermain denga teman sebayanya yang memiliki kemampuan bahasa lebih baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)

