Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Tuesday, December 13, 2016

Penyakit Gizi Yang Sering Menyerang Balita

Tuesday, December 13, 2016

Pola konsumsi yang tidak seimbang akan menyebabkan status gizi anak menjadi buruk atau berlebih. Sumber energy utama adalah dari karbohidrat. Bila terjadi kekurangan sumber karbohidrat, maka tubuh akan menggunakan energy dari sumber lainnya, yaitu protein dan lemak, sehingga akan menghambat fungsi tumbuh kembangnya yang lain.

Energy dibutuhkan anak untuk proses tumbuh kembang, metabolisme, dan kegiatan sehari-harinya. Kebutuhan energy anak jauh lebih besar dibandingkan dewasa. Oleh karena itu pemenuhan sumber energy sangat penting pada saat anak dalam masa tumbuh kembang.

Beberapa masalah gangguan keseimbangan zat gizi pada anak yaitu:
1. Kekurangan energy protein (KEP) Sering terjadi pada balita yang mengalami penyakit/ gangguan penyerapan makanan, kurangya asupan makanan, atau karena nafsu makannya yang terganggu.
 Jenis KEP:
 a. Marasmus Kurangnya asupan sumber energy/ karbohidrat pada tubuh.
Ciri-ciri anak yang mengalami marasmus, yaitu tubuh kurus, wajah seperti orang tua, dan otot tubuh mengecil.

 b. Kwashiorkor Terjadi akibat kekurangan asupan protein pada tubuh.
Anak yang mengalami kwashiorkor memiliki ciri seperti: bengkak, terutama pada anggota tubu dan kaki, otot tubuh mengecil, pertumbuhan terhambat, wajah terlihat bulat, perubahan warna pada rambut.

 c. Marasmus-kwashiorkor Merupakan gangguan gizi akibat kekurangan energy dan protein.
 Ciri-ciri anak yang mengalami marasmus-kwashiorkor adalah:
- Tubuh kurus kering atau berat badan tidak mencapai berat badan normal
- Pertumbuhan tinggi badan terhambat
- Perut membusung
- Pergerakan anak lambat
 - Anak cengeng

 2. Kekurangan vitamin A
Penyebab anak mengalami kekurangan vitamin A yaitu karena kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin A, gangguan system pencernaan atau mengalami perdarahan.

Makanan sumber vitamin A yaitu hati, wortel, kuning telur, keju dan susu. Kekurangan vitamin A pada anak akan menyebabkan pertumbuhan yang terhambat, kulit kering, dan gangguan pada mata.

3. Anemia Anemia adalah kurangnya jumlah sel darah merah/ hemoglobidalam darah. Hemoglobin (Hb) berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Terdapat beberapa jenis anemia, namun yang paling sering ditemukan adalah anemia akibat kekurangan zat besi. Penyebab anemia defsiensi zat besi (Fe) adalah akibat kehilangan banyak darah, penyerapan zat besi yang berkurang, atau akibat infeksi.

 Untuk mencegah terjadinya anemia pada anak, dapat diberkan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral termasuk zat besi, yang banyak terdapat pada hati, daging, ikan, telur, alpukat, kacang-kacangan, daun bayam, dan biji-bijian.

4. Kekurangan yodium
Kekurangan yodium pada balita akan menyebabkan gangguan perkebangan mental, penyakit gondok, penurunan kecerdasan dan pertumbuhan yang terhambat.

 5. Obesitas / kegemukan Kegemukan juga merupakan gangguan keseimbangan asupan energy pada anak. Hal ini berkaitan dengan pola makan dan aktifitas tubuh. Makanan fast food atau minuman bersoda menjadi penyumbang terbanyak kasus kegemukan pada balita dan anak di daerah perkotaan.

 Untuk menghindari atau mengurangi resiko kegemukan pada anak, orang tua perlu mengenalkan pola makan sehat, bukan saja untuk anak, tapi untuk seluruh anggota keluarga, ajak anak untuk rutin berolah raga, batasi konsumsi junk food dan minuman bersoda, atau kebiasaan buruk lainnya, seperti bermain play station berjam-jam atau ngemil makanan manis.

Pola Makan Batita Dan Anak Usia Pra Sekolah

Tuesday, December 13, 2016

Batita belum mampu makan dalam ukuran yang besar. Oleh karena itu, berikan makanan dalam porsi kecil namun sering, bisa hingga 7-8 kali penyajian dalam sehari.

Pola makan batita terdiri dari:
 - 3 kali makan besar, yaitu makan pagi, siang, dan malam
 - 2 kali makan seligan (snack) dapat diberikan diantara makan pagi dan siang (sekitar pukul 10 pagi) dan antara makan siang dan makan malam (sekitar pukul 4 sore)
- 3-4 kali minum susu.

Sedangkan anak pra sekolah membutuhkan energy yang sangat besar, karena aktifitas mereka sudah sangat tinggi.

Karena porsi makan mereka sudah dapat lebih besar, makan frekuesi pola makannya juga dapat lebih sedikit daripada anak balita.
Anak prasekolah dapat diberikan sebanyak 5-6 kali porsi makan dalam sehari, dengan pengaturan sebagai berikut:
 - 3 kali makan besar, yaitu makan pagi siang dan malam
 - 2 kali makan selingan
 - 2 kali sehari susu.

Pemilihan makanan selingan yang sehat yaitu:
1. Mengandung zat gizi yang lengkap. Walaupun hanya merupakan makanan selingan, namun pemilihan bahan yang digunakan juga harus merupakan bahan makanan yang banyak mengandung zat gizi yang dibutuhkan anak.

2. Home made. Lebih baik bila makanan selingan dibuat sendiri oleh ibu dirumah dengan menggunakan bahan yang alami dan segar. Tentu saja tujuannya adalah untuk mengurangi penambahan zat additive makanan atau zat pengawet yang kurang baik bila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Selain itu, tentu faktor higienitas penjadi pertimbangan utama.

3. Gunakan bahan makanan alami. Makanan kalengan atau kemasan banyak mengandung garam dan bahan pengawet.
4. Hindari bahan makanan awetan, perasa dan pewarna

5. Hindari pemakaian gula dan garam secara berlebihan
6. Hindari pemakaian bumbu yang merangsang lambung

Monday, March 14, 2016

Cacingan Pada Anak, Bagaimana Gejala dan Penanganannya

Monday, March 14, 2016
Kecacingan masih merupakan penyakit teratas penyebab kesakitan pada negara kita. Dikarenakanan tingkat higienitas, padatnya penduduk, serta kesadaran penduduknya yang masih rendah mengenai sanitasi yang baik.

Pada anak, infeksi kecacingan dapat berakibat serius ya moms, seperti berkurangnya gizi yang terserap oleh tubuh, hingga menurunnya prestasi belajar anak.

Jenis cacing yang dapat menjadi parasit dalam tubuh manusia dapat bermacam-macam, seperti:

1. Cacing kremi, merupakan jenis kecacingan yanng paling sering menginfeksi anak-anak. ukurannya yang kecil dan halus seperti ampas kelapa dapat tidak terlihat oleh orang tua. Biasanya menyebabkan rasa gatal di anus/ dubur terutama saat malam hari dan membuat anak rewel

2. Cacing gelang. Bentuknya besar, dan panjang seperti cacing tanah. dapat terlihat kasat mata dengan mudah. Hidup dan berkembang biak dalam usus manusia, dan bertahan hidup dengan menghisap sari makanan anak, sehingga anak dapat menderita kurang gizi parah dan gangguan organ lain.

3. Cacing pita. Juga dapat ditemukan pada hewan seperti babi dan sapi. berbentuk panjang dengan badan yang agak pipih. seluruh organ tubuh dapat terinfeksi cacing ini, seperti jantung, otak, mata, dan lainnya.
Penularannya melalui makanan yang terkontaminasi oleh telur cacing atau melalui tanah yang terkontaminasi kotoran manusia/ hewan yang mengandung telur/ larva cacing.

Penularannya.

Cara penularan yang paling sering yaitu melalui makanan yang terkontaminasi dengan telur atau larva cacing. Telur/ larva tersebut dapat menempel di pakaian, atau badan anak saat bermain. bila menempel di pakaian, telur cacing dapat bertahan hingga beberapa hari sampai 1 minggu.


Gejala kecacingan pada anak.

Walaupun gejala kecacingan dapat tidak khas dan harus melalui pemeriksaan tambahan lain untuk mengkonfirmasikannya, namun berikut beberapa gejala kecacingan yang dapat muncul pada penderita:

1. lesu dan lemah, dapat diakibatkan kurangnya darah, karena darah terus dihisap oleh cacing yang berada dalam tubuh anak.

2. berat badan anak rendah atau tidak sesuai umur. Akibat sari makanan yang masuk justru dihisap ole cacing, sehingga proses tumbuh kembang anak menjadi terganggu.

3. nyeri perut hingga diare.

4. anak rewel saat malam hari.

Pengobatan.

Pemberian obat cacing yang sesuai dengan resep dokter akan mempercepat penyembuhan anak. Sebaiknya pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya ditemukan infeksi cacing, maka seluruh anggota keluarga juga harus diberikan terapi.

Pencegahan.

Ajarkan anak pola hidup bersih dan sehat, dengan rajin mencuci tangan setelah bermain atau akan memegang makanan, memotong kuku secara teratur, dan mandi dengan air bersih dengan rutin.


Tuesday, June 3, 2014

Inilah Jadwal Imunisasi Terbaru 2014 Sesuai Rekomendasi IDAI

Tuesday, June 03, 2014
Moms, bagi yang masih bingung tentang jenis imunisasi dan jadwalnya, berikut tabel jadwal imunisasi anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2014.

Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2014


Saturday, April 19, 2014

Sudah Gede Kok Masih Ngompol?

Saturday, April 19, 2014
Mengompol memang lumrah pada bayi dan anak yang lebih kecil, ya Moms. Tapi normalkah bila sudah umur 6 tahun anak anda masih mengompol?

Ternyata 75% kebiasaan mengompol (enuresis) berasal dari faktor keluarga. Anak laki-laki lebih sering dan lebih lama dalam fase mengompol daripada anak perempuan.

Biasanya kebiasaan mengompol akan hilang dengan sendirinya seiring pertambahan usia, karena telah matangnya fungsi anatomis tubuh si kecil atau karena faktor tuntutan lingkungan dan dia malu dengan teman sebayanya.

Namun, ada beberapa kasus yang terus mengalami masalah kebiasaan mengompol ini hingga beberapa tahun kemudian.  

Pada dasarnya, mengompol di bagi menjadi 2 jenis, yaitu:

1. Enuresis primer, berlangsung sejak dini/ bayi, si kecil terus menerus kencing di malam hari.

2. Enuresis sekunder, si kecil pernah berhenti mengalami enuresis primer selama beberapa waktu (minimal 6 bulan), namun karena faktor penyebab lain sehingga mengalami enuresis/ mengompol lagi.  

Penyebab mengompol/ enuresis:

Memang sebagian besar kasus mengompol hanyalah merupakan kebiasaan si kecil, namun ada beberapa kasus yang disebabkan oleh penyakit yang lebih serius.

1. Enuresis primer: biasanya tidak ada masalah kesehatan yang mendasarinya. Murni didasarkan karena belum matangnya kemampuan otot saluran kencing untuk mengendalikan proses berkemih.

2. Enuresis sekunder: dapat disebabkan oleh berbagai sebab: - seperti infeksi - volume air kencing yang berlebih - tidur yang terlalu nyenyak - masalah gangguan tidur - gangguan saraf - gangguan mental/ psikis, ketakutan, kekhawatiran atau ketidaknyamanan di sekolah atau lingkungannya.

Berada dalam lingkungan baru, atau akan memiliki adik. Sering mendapatkan kekerasan fisik maupun mental. Kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan sebagainya - penyakit lain seperti Diabetes Mellitus - gangguan hormon ADH - atau susah buang air besar.

Penanganan.

Untuk menangani anak yang mengompol diperlukan ekstra kesabaran dan kasih sayang. Cobalah menghindari untuk menilai atau memberinya label karena kebiasaannya. Seperti: “Ih, Si A tukang ngompol.”

Membandingkan dia dengan teman atau saudaranya yang lain juga kurang bijaksana, Moms. Hal itu justru akan menurunkan kepercayaan dirinya dan membuatnya tidak nyaman. Bukannya menghilangkan kebiasaannya ngompol, justru akan memperparahnya.

 Penanganan enuresis dapat dilakukan dengan:

1. Non obat. Pemberian motivasi, toilet training, latihan menahan kencing (bladder training exercise), terapi dengan menggunakan alarm, terapi psikis, atau terapi hipnotis.

 2. Obat. Pemberian obat enuresis hanya bisa diresepkan oleh dokter atas indikasi/ penyebab tertentu, dan bila terapi non-obat tidak memberikan hasil optimal. Untuk mengobati anak yang mengompol, jelas kita harus tahu lebih dulu apa yang menyebabkannya, Moms, sehingga si kecil menerima terapi yang tepat. Penanganan yang tepat tentu saja akan meningkatkan kualitas diri si kecil saat dia dewasa kelak.

Friday, April 18, 2014

Tanda Dan Cara Mengatasi Anak Susah Buang Air Besar

Friday, April 18, 2014
Anak anda sering mengalami susah buang air besar, Moms?? Apa penyebab sembelit, apa saja tandanya, dan bagaimana mengatasinya?

Apa sih sembelit?

Sembelit, susah BAB atau konstipasi memang sering terjadi pada anak-anak. Terjadi karena kurangnya kadar air dalam kotorannya, sehingga kotoran akan menjadi lebih kering dan sulit dikeluarkan.

Dikatakan sembelit apabila frekuensi bab kurang dari 3x dalam seminggu, atau konsistensi feses keras, sulit mengeluarkan kotoran dan atau anak mengejan selama lebih dari 10 menit tanpa dapat mengeluarkan feses.

Makanan yang telah diproses dalam lambung dan usus kecil akan terus masuk ke dalam usus besar. Di dalam usus besar atau kolon ini, sisa makanan akan mengalami penyerapan ulang zat gizi, vitamin dan air.

Bila makanan yang masuk kurang kandungan air, anak kurang minum atau kurang makanan berserat, air yang tersisa sangat sedikit untuk diserap oleh kolon. Akibatnya, feses/ kotoran menjadi terlalu kering sehingga sulit saat akan dikeluarkan.

Gejala sembelit:

1. Frekuensi buang air besar menjadi lebih jarang. Bisa hanya 1 atau 2x dalam seminggu.

2. Rasa sakit atau tidak nyaman di perut yang akan hilang setelah BAB.

3. Kadang terdapat darah pada kotoran/feses.

4. Kotoran/ feses bulat-bulat kecil seperti kotoran kambing.

5. Akan akan mengejan lama dan disertai rewel akibat rasa nyeri di daerah anus.

Penyebab:

1. Pola makan yang kurang sehat. kurang serat, buah atau kurang cairan dapat membuat si kecil mengalami sembelit. Bila anda (ayah/ibu) juga mengalami sembelit, berarti ada kesalahan pola makan dalam keluarga. Memperbaiki pola makan akan sangat membantu

2. Si kecil terbiasa menahan keinginan BAB atau BAB tidak teratur.

3. Bila pada bayi, bisa jadi karena konsumsi sufor.

4. Bila terjadi sejak si kecil baru lahir, bisa juga disebabkan karena penyakit lain seperti Hischsprung (kelainan bawaan, yaitu kurangnya serabut saraf pada usus besar yang menyebabkan usus besar kurang bergerak).

5. Anak yang kurang aktif. Anak yang kegiatannya hanya duduk menonton atau bermain game lebih rentan terkena sembelit dibanding anak yang aktif motoriknya.

6. Konsumsi obat-obatan.

Penanganan:

1. Bila sembelit yang dialami si kecil berasal dari kebiasaan kurang baik dalam keluarga, sebaiknya segera ubah pola hidup anda sekeluarga menjadi pola hidup sehat dengan banyak makan sayur, buah, olahraga teratur dan sebagainya.

2. Ajak si kecil untuk aktif bergerak dengan bermain bersama keluarga atau temannya.

3. Pada bayi, berikan hanya ASI pada 6 bulan pertama.

4. Bila bayi anda telah mengkonsumsi MP ASI, masukkan sayur dan buah dalam pilihan menunya.

5. Minta si kecil untuk minum air putih lebih banyak.

6. Buat makan buah dan sayur menjadi kegiatan yang menyenangkan. Seperti mengolahnya menjadi makanan yang berbentuk lucu, membuatnya menjadi jus, agar-agar dan lainnya.

7. Berhenti mengkonsumsi makanan olahan dan kurangi makanan yang diproses melalui proses penggorengan.

8. Perbaiki pola BAB. Latih anak untuk BAB secara rutin setiap hari, agar kotoran tidak terlalu lama berada dalam kolon dan mengalami proses penyerapan air.

Makin lama feses berada dalam kolon, maka makin banyak air yang diserap, sehingga makin kering kotorannya, yang membuatnya makin sulit dikeluarkan.

9. Bila perlu, pada bayi yang hanya mengkonsumsi sufor, konsultasilah pada dokter spesialis anak anda tentang kemungkinan mengganti susunya.

Cara Efektif Mengajarkan Toilet Training Pada Anak

Friday, April 18, 2014
Untuk mencegah si kecil mengalami kebiasaan mengompol yang berkepanjangan, beberapa Moms mengajarkan toilet training sejak dini pada anaknya. Ada yang mulai sejak umur 1 tahun, 6 bulan, bahkan 2 bulan!!

Pentingkah toilet training?

Tentu saja Moms. Disarankan dilakukan saat anak berusia lebih kurang 1 tahun. Beberapa ahli menyarankan antara 18 bulan-24 bulan (1,6 tahun hingga 2 tahun).

Saat dia sudah mulai mengenali sensasi ingin kencing dan ingin pup/ BAB. Jangan terlambat untuk dilatih ya Moms, karena bila dilakukan lebih lambat, dikhawatirkan akan lebih sulit untuk mengubah kebiasaan dan perilaku anak.  

Sebelum mengajarkan anak toilet training, perhatikan beberapa tanda bahwa anak anda siap untuk menjalani toilet training, yaitu:

1. Sudah mampu untuk duduk dalam jangka waktu tertentu.

2. Tertarik memperhatikan anda menggunakan toilet.

3. Sudah mengerti perintah sederhana.

4. Popoknya kering selama lebih dari 2 jam.

5. Dapat mengatakan pada anda atau memberi tanda khusus sebelum dia kencing atau pup.

6. Mulai tidak nyaman menggunakan popoknya saat basah.

Bagaimana cara mengajarkan toilet training yang efektif?

Berikut beberapa cara yang mungkin dapat membantu (Moms dapat menambahkan atau mengurangi disesuaikan dengan pengalaman, kebiasaan yang berlaku dalam keluarga anda).

 1. Untuk mengajarkan toilet training, dibutuhkan kesabaran ekstra. Latihan ini membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

2. Pertama kali, ajarkan dulu kata-kata yang Moms ingin dia gunakan untuk memberitahukan pada anda, apakah pipis, kencing, bab, pup dan lainnya.

3. Jelaskan dulu fungsi dari toilet dengan bahasa sederhana. Misalnya saat anda membuang kotorannya di popoknya ke dalam wc.

4. Batasi penggunaan diapers. Diapers akan menyulitkan anak untuk berlatih toilet karena dia terlanjur merasa nyaman, si kecil juga akan sulit membedakan konsep basah-kering yang menjadi dasar toilet training.

5. Jangan paksa si kecil untuk langsung menggunakan pispot atau toilet khususnya. Bila dia sudah bisa memberitahu anda bahwa dia ingin kencing atau pup, ajak saja dia untuk masuk kamar mandi dan melakukannya di dalam kamar mandi, walaupun belum diatas wc.

6. Jangan terlalu lama mendudukkan anak di wc. Maksimal 5 menit. Terlalu lama akan membuat si kecil menjadi tidak nyaman, yang justru akan menyulitkan proses belajarnya. Perhatikan tanda saat dia membutuhkan untuk pergi ke wc, dan bawa dia segera sebelum pup atau kencingnya keluar.

7. Berikan makanan yang cukup mengandung serat, agar dia tidak mengalami konstipasi. Konstipasi akan memberikan pengalaman traumatis bagi anak.

 8. Tanyakan pada anak setiap beberapa jam sekali apakah dia ingin kencing. 2-3 jam sejak kencing terakhir (atau tergantung dari usia anak) adalah waktu yang ideal untuk bertanya. Makin besar anak, jaraknya dapat semakin jauh. Jangan terlalu sering agar dia tidak merasa terlalu ditekan.

9. Bila dia sudah mulai terbiasa menggunakan toiletnya, biasakan dia untuk duduk disitu saat bangun tidur di pagi hari, setelah makan atau sebelum tidur. Untuk membantunya membiasakan diri buang air besar dan kecil secara teratur.

10. Beri pujian bila dia berhasil pup dan kencing dengan baik di toilet.

11. Jangan terlalu panik atau memarahinya bila dia kembali mengompol atau pup di tempat yang tidak seharusnya. Bersihkan saja dan tetap ajak dia ke wc secara teratur.

Semoga sukses dengan toilet trainingnya, ya Moms..

Thursday, February 20, 2014

Milestone Tumbuh Kembang Anak, Umur 1-5 Tahun

Thursday, February 20, 2014
Tumbuh kembang merupakan konsep yang berkesinambungan/ terus menerus, dari sejak konsepsi hingga dewasa.

Proses ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang baik akan mendukung faktor genetik, sebaliknya, lingkungan yang buruk justru akan menghambat faktor genetik.

Berikut, adalah milestone anak usia 1-5 tahun, yang mencakup kemampuan sosial, bahasa, gerak kasar dan gerak halusnya.

Usia 12-18 bulan (1 tahun sampai 1 tahun 6 bulan) :

- Berjalan dan mengeksplorasi rumah.

- Menyusun 2-3 balok kecil.

- Dapat mengatakan 5-10 kata.

- Mulai menampakkan rasa cemburu dan persaingan.

- Suka menirukan orang dewasa.

Usia 18-24 bulan (1 tahun 6 bulan sampai 2 tahun) :

- Naik turun tangga.

- Menyusun 6 balok.

- Dapat menunjuk mata dan hidungnya.

- Dapat menyusun kalimat yang terdiri dari 2 kata.

- Belajar makan sendiri.

- Dapat minum dari gelas.

- Dapat menggambar garis di kertas.

- Dapat menunjuk anggota tubuhnya.

- Mulai belajar mengontrol BAB dan BAK.

- Memperhatikan kegiatan orang dewasa disekitarnya, dan mulai menirukannya.

- Mulai dapat bersosialisasi dengan anak seusianya dan bermain bersama.

Usia 2 sampai 3 tahun :

- Meloncat, memanjat, melompat dengan 1 kaki.

- Membuat jembatan dengan 3 kotak.

- Mampu menyusun kalimat.

- Dapat menggunakan kalimat tanya.

- Menggambar lingkaran.

Usia 3-4 tahun :

- Berani/dapat berjalan sendiri kerumah tetangga sekitar.

- Bisa memakai dan melepas pakaian sendiri.

- Membuat garis silang.

- Bisa menggambar orang, walaupun hanya bagian kepala dan badan.

- Mengenal 2-3 warna.

- Dapat mengelompokkan benda sesuai dengan bentuk dan warnanya.

- Bicara dengan baik.

- Dapat menyebut nama, jenis kelamin dan umurnya.

- Banyak bertanya.

- Bertanya bagaimana anak dilahirkan.

- Mengenal konsep atas-bawah, depan-belakang.

- Suka mendengarkan cerita.

- Menunjukkan rasa sayang kepada saudaranya.

- Dapat melaksanakan tugas sederhana.

Usia 4-5 tahun :

- Melompat dan menari.

- Dapat menggambar orang yang terdiri dari kepala, badan, lengan.

- Dapat menggambar segi empat dan segi tiga.

- Lancar berbicara.

- Dapat menghitung jari-jarinya.

- Dapat menyebut nama hari dalam seminggu.

- Mendengar dan dapat mengulangi isi cerita.

- Bisa memprotes bila dilarang.

- Mengenal 4 warna.

- Mengenal konsep besar-kecil.

- Dapat mengendarai sepeda roda 3.

- Dapat menghitung objek berjumlah 10 atau lebih Untuk membantu proses tumbuh kembang anak, hendaknya orang tua dapat menstimulasi sendiri anak saat dirumah.

Stimulasi yang dapat anda berikan untuk anak usia 1-5 tahun, yaitu:

- Pengenalan ruang, bentuk, warna, dan persiapan berhitung.

- Mengajarkan tentang sosialisasi, mengenalkan bagaimana bermasyarakat dan mencintai alam sekitar.

- Mengembangkan fantasi dan memperkaya pengalaman dengan cara bermain bebas dan bercerita.

- Menyanyi bersama.

- Menggambar.

- Sering mengajak anak bercakap-cakap.

- Bermain musik/mengajarkan alat musik.

- Mengenalkan beberapa tugas sederhana.

- Mengenalkan nilai-nilai social, kesopanan.

- Menagajarkan aktifitas sehari-hari, seperti makan, mandi, dll.

Friday, February 7, 2014

Anak Terlambat Bisa Bicara (Speech Delayed). Kapan Harus Waspada?

Friday, February 07, 2014
Keterlambatan bicara sering terlambat dideteksi oleh para orang tua, karena dianggap biasa dan akan menyusul teman seumurannya kelak.

Speech delayed/keterlambatan bicara terjadi pada 5-10 % anak usia prasekolah, dan 3 hingga 4 kali lebih sering pada anak laki-laki daripada anak perempuan.

Terlambat bicara dapat terjadi karena hal-hal yang normal dalam perkembangan atau karena kelainan pada si kecil.

Hal yang normal pada anak yang dianggap sebagai keterlambatan bicara seperti:

1. Jenis kelamin. Anak laki-laki umumnya memiliki kosakata yang lebih sedikit dan biasanya lebih lambat mulai berbicara sekitar 1-2 bulan dari anak perempuan.

Saat umur 16 bulan, perempuan memiliki 50 kata, sedangkan anak laki-laki hanya memiliki sekitar 30 kata saja. Anak perempuan juga kelihatan lebih 'ceriwis' daripada laki-laki. Namun hal ini adalah normal, dan anak laki-laki akan segera mengejar 'ketertinggalannya'.

2. Fokus pada kepandaian yang lain. Anak yang lebih dulu dapat berjalan, biasanya akan lambat berbicara, atau sebaliknya. Jika dia sudah lancar dengan skill-nya, maka akan segera mengejar ketertinggalannya di bidang bahasa.

3. Anak yang lahir prematur, dan atau bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Bayi prematur memiliki kemampuan yang lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Namun biasanya pada sekitar umur 2 tahun, dia akan memiliki kemampuan yang sama dengan teman sebayanya.

4. Anak yang diajarkan 2 bahasa atau lebih (bilingual). Biasanya anak akan mengalami 'kelambatan sementara' dalam berbahasa dibandingkan dengan teman seumurannya. Namun, biasanya keadaan mereka akan segera membaik dan mampu menguasai kedua bahasa tersebut sebelum berumur 5 tahun.

Penyebab terlambat bicara dapat beragam, diantaranya:

1. Masalah pada pendengaran.

2. Lingkungan, seperti penelantaran atau kekerasan pada anak.

3. Gangguan neurologi, seperti cerebral palsy, muscular dystrophy atau trauma kepala.

4. Autis.

5. Kelainan anatomi pada mulut, bibir dan atau langit-langit. Kelainan seperti bibir sumbing dapat mengganggu pelafalan kata yang benar.

6. Gangguan intelektual.

7. Malnutrisi/kurang gizi.

8. Masalah mental, seperti depresi atau anak yang mengalami gangguan kecemasan.

Untuk mengetahui gejala terlambat bicara, hendaknya kita tahu dahulu bagaimana tahapan perkembangan berbicara pada anak normal:

1. Bayi 0-6 bulan.

Komunikasi pertama bayi setelah lahir yaitu dengan menangis. Dengan tangisan, bayi menyatakan kebutuhannya, seperti mengantuk, lelah, lapar atau tidak nyaman seperti cuaca yang panas dan popok yang basah.

Saat umurnya 2-3 bulan, bayi mulai merespon suara anda dengan gumamannya seperti ‘aahh’ atau ‘oohh’, dan tangisannya sudah dapat dibedakan sesuai dengan kebutuhannya. Bayi mulai bereksperimen dengan suara-suara yang dihasilkannya, seperti ‘mamama’; ‘babababa’; ‘papapapa’ atau yang disebut babbling.

Pada umur sekian, waspadai bila si kecil anda tidak babbling.

2. Umur 6-12 bulan.

Saat umur 6-9 bulan, bayi mulai mengenal beberapa nama benda dan orang yang berada disekitarnya. Sudah mengerti konsep dasar seperti ‘ya’, ‘tidak’.

Usia 9-12 bulan, dia sudah dapat mengucapkan ‘mama’ dan ‘papa’ dan mengerti artinya (atau sebutan lain yang diajarkan untuk memanggil kedua orang tuanya).

Sudah dapat menggunakan isyarat untuk mengungkapkan keinginannya, seperti menunjuk benda, melambaikan tangan untuk ber-dadah, mengangkat tangan untuk minta digendong. Mengerti beberapa instruksi sederhana seperti ‘ayo kesini’ atau ‘lihat itu’.

Pada usia 12 bulan, bayi sudah mengerti sekitar 70 kata.

Waspadai bila si kecil belum dapat menunjuk benda saat usianya menginjak 1 tahun, atau ekspresi wajah yang kurang pada usia itu.

3. Usia 12-18 bulan.

- Dapat mengucapkan 3-6 kata dengan arti.

- Dapat menunjuk anggota tubuh atau gambar yang disebutkan.

- Dapat mengangguk atau menggelengkan kepala saat menjawab pertanyaan.

- Dapat mengikuti istruksi sederhana, seperti ‘tolong ambilkan itu’ atau ‘tolong tutup pintu’.

- Usia 18 bulan, kosakata yang dapat diucapkannya sekitar 5-50 kata.

Bila saat usia anak 16 bulan dan belum ada kata yang berarti yang bisa diucapkan, anda harus waspada.

4. Usia 18-24 bulan.

- Dapat menggabungkan 2 suku kata yang berarti, seperti ‘saya makan’.

- Hampir setiap hari si kecil memiliki kosakata baru. Dan senang mendengarkan cerita.

- Pada umur 2 tahun, sekitar 50% kata-katanya sudah dapat dimengerti orang lain.

Waspada bila saat umur 2 tahun, si kecil tidak membuat kalimat dengan 2 kata yang dapat dimengerti.

5. Umur 2-3 tahun.

Dapat menyebutkan anggota badan. Bisa menyusun kalimat pendek. Dapat mengerti konsep besar dan kecil. Mulai dapat menggunakan kalimat tanya. Mengenal warna. Dapat bernyanyi.

6. Usia 3-5 tahun.

Sudah dapat menyusun kalimat panjang >4 kata. Dapat menyebutkan nama, alamat, jenis kelamin. Dapat bercerita tentang kejadian sekitar. Dan hampir semua kata yang diucapkannya dapat dimengerti oleh orang lain.

Apabila anak dicurigai mengalami speech delayed, segera periksakan si kecil ke dokter untuk mencari tahu penyebab dan dilakukan rehabilitasi secepatnya.

Makin cepat dilakukan terapi maka kemungkinan untuk dapat mengejar ketertinggalannya juga semakin besar, sehingga tidak akan mengganggu perkembangannya yang lain kelak.

Terapi yang dilakukan pada anak yang mengalami speech delayed bervariasi, tergantung penyebab dan bersifat individu. Artinya, antara satu anak dan anak lain yang sama menderita gangguan ini, penanganannya tidak sama.

Bila anda mencurigai anak anda mengalami keterlambatan bicara, berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan:

1. Seringlah mengajak bayi anda berbicara, karena apa yang dia dengar akan sangat berguna saat dia akan belajar bicara nanti

2. Hendaknya merespon saat bayi anda cooing atau babbling

3. Sering mengajak bayi permainan sederhana, seperti cilukba

4. Menyebutkan apa yang sedang anda atau si kecil lakukan, lihat atau rasakan

5. Sering membacakan buku cerita dengan suara keras

6. Menambah/ memperjelas kata-kata yang disebutkan oleh si kecil. Misalnya anak bilang ‘num’, perbaiki kosakatanya dengan mengatakan ‘Minum. Adik mau minum?’

7. Berilah pertanyaan sebanyak mungkin pada si kecil. Dan jawab pertanyaan atau perkataan anak anda

8. Jangan menertawakan bila anak anda menggunakan kata yang salah

9. Biarkan dia bermain denga teman sebayanya yang memiliki kemampuan bahasa lebih baik.



Thursday, January 30, 2014

Kejang Pada Anak Akibat Deman, Perlukah Orang Tua Khawatir?

Thursday, January 30, 2014
Kejang adalah gerakan ritmis yang terjadi berulang-ulang, yang menyerang sebagian atau seluruh tubuh, seringkali disertai dengan hilangnya kesadaran si penderita. Kejang terjadi akibat aktifitas sel saraf otak yang tidak normal.

Kejang demam adalah keadaan kejang yang terjadi saat anak sedang mengalami demam (suhu lebih dari 38C). Biasanya terjadi saat anak umur 6 bulan hingga 6 tahun, dan menyerang sekitar 2-4% anak.

Walaupun, tidak menyebabkan kerusakan otak anak, namun kejang sering merupakan pengalaman yang traumatis bagi orang tua.

Gejala kejang demam:

1. Kejang didahului atau bersamaan dengan demam.

2. Kejang demam jarang muncul diatas umur 6 tahun.

3. Kejang yang ditimbulkan adalah kejang demam bentuk tonik klonik dan menyerang seluruh anggota tubuh.

4. Lama kejang antara 3-5 menit.

Yang dilakukan saat anak kejang:

1. Letakkan anak di tempat yang aman. Jauhkan dari benda-benda yang dapat mencederainya.

2. Jangan menahan gerakan tubuh si kecil saat dia kejang.

3. Jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya saat dia kejang, seperti minuman, obat, makanan atau sendok untuk menahan lidah. Karena akan membahayakan anak.

4. Segera bawa anak ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Bermain Bagi Anak, Beragam Manfaatnya Yang Tidak Bisa Dipandang Remeh

Thursday, January 30, 2014
Bermain tidak dapat dipisahkan dari anak. Bagi anak, bermain adalah cara mereka belajar mengenal dunia. Anak membutuhkan bermain sama seperti mereka butuh makanan dan kasih sayang.

Bermain memiliki unsur yang penting bagi perkembangan fisik, emosi, mental, intelektual, kreatifitas dan sosial anak.

Terdapat 2 jenis bermain, yaitu bermain aktif dan pasif. Yang dimaksud bermain aktif yaitu kegiatan anak mengamati dan mengeksplorasi, kegiatan membangun (konstruksi), bermain peran (rumah-rumahan, dokter-dokteran, dll), dan kegiatan fisik, seperti bermain bola, lompat tali dan sebagainya.

Permainan pasif, yaitu kegiatan bermain yang berfungsi sebagai relaksasi dan hiburan. Hiburan ini didapatkan dari orang lain di sekitar si kecil kegiatan yang dilakukan bisa beragam, seperti mendengarkan cerita, mendengarkan musik, mendongeng, melihat gambar di buku atau majalah, dll.

Bermain memiliki banyak manfaat bagi anak, seperti:

1. Dapat membuang energi ekstra.

2. Mengoptimalkan pertumbuhan tubuh, seperti tulang, otot.

3. Aktifitas bermain dapat meningkatkan nafsu makan anak.

4. Anak belajar mengontrol dirinya.

5. Keterampilan anak akan berkembang.

6. Meningkatkan daya kreatifitas anak.

7. Cara untuk mengatasi emosi anak, seperti kegembiraan, kesedihan, kemarahan.

8. Belajar sosialisai.

9. Belajar sportif.

10. Belajar mengikuti aturan.

11. Mengembangkan intelektual anak.

Unsur yang dibutuhkan anak untuk bermain:

1. Energi ekstra. Anak yang sehat memiliki keinginan bermain yang lebih besar daripada yang sedang sakit.

2. Waktu. Harus ada waktu yang cukup bagi anak untuk bermain. Berikan porsi waktu yang seimbang antara bermain dengan aktifitasnya yang lain, seperti belajar dan beristirahat.

3. Alat permainan. Diperlukan alat permainan yang sesuai dengan proses tumbuh kembang dan kemampuan anak. Alat yang dimiliki tidak harus mahal atau berembel-embel permainan edukasi. Mainan yang murah atau buatan sendiri juga tidak kalah serunya looh.. Dan pastinya juga akan lebih meningkatkan kreatifitas anak.

4. Ruangan untuk bermain. Tempat yang dimaksud tidak harus di luar rumah, kamar anak pun dapat menjadi tempat bermain yang mengasikkan bagi anak. Yang perlu diperhatikan adalah keamanan tempat bermain.

5. Cara bermain. Permainan yang menggunakan alat bermain memerlukan cara bermain yang berbeda. Anak dapat mengeksplorasi sendiri mainannya, namun akan lebih efektif bila si kecil diajari cara menggunakan mainannya, sehingga mereka dapat menggunakan mainan sesuai dengan fungsi dan manfaatnya.

6. Teman bermain. Teman juga merupakan unsur yang diperlukan oleh anak untuk bermain. Bersama teman, si kecil dapat bersosialisasi dan belajar dari teman bermainnya. Namun jumlah teman yang terlalu banyak juga tidak baik bagi anak.

Anak akan sulit mengembangkan keinginannya dalam berkreasi dalam permainan dan kurang kesempatan menghibur dirinya sendiri. Teman bermain dapat dilakukan oleh orang tua, saudara atau orang lain.



Thursday, January 16, 2014

Gejala Diare Pada Anak dan Cara Mengatasinya

Thursday, January 16, 2014
Setelah membahas tentang penyakit demam berdarah yang sering menyerang saat musim penghujan, kali ini saya akan membahas tentang penyakit lain yang juga mewabah di musim hujan, yaitu diare.

Diare adalah keadaan BAB yang lebih sering dari biasanya (>4x) dengan konsistensi yang lembek/ encer/ cair. Disertai dengan lendir, berbusa dan berbau amis. Kadang ada juga yang mengalami mual dan muntah.

Diare dapat dikarenakan kontaminasi air dan bahan makanan oleh bakteri dan parasit. Penyebab diare beragam, yang paling sering adalah rotavirus, bakteri dan parasit.

Penularan:

Penyakit diare menular melalui kontak langsung dengan penderita, atau kontak dengan makanan, minuman atau benda lain yang telah terkontaminasi bakteri, virus dan parasit.

Gejala:

Gejala diare diantaranya:

- BAB yang lebih encer dan lebih sering dari biasanya.

- Demam.

- Nyeri perut.

- Kadang disertai dengan mual dan muntah.

- Seringkali nafsu makan hilang.

- Penyakit diare dapat menjadi sangat buruk dan dapat mengancam nyawa bayi dan anak. Maka pada bayi/ anak, hendaknya dilakukan pengawasan yang sangat cermat untuk mencari tanda dehidrasi/ kekurangan cairan tubuh.

Gejala dan tanda dehidrasi seperti:

- Mata cekung.

- Rasa haus terus menerus.

- Mulut dan bibir kering.

- Ubun-ubun besar pada bayi cekung.

- Menangis tanpa air mata.

- Kencing yang sedikit.

- Selalu mengantuk.

- Dan lemah.

Tindakan yang dapat anda lakukan di rumah saat anak diare :

1. Tetap berikan ASI pada bayi.

2. Berikan larutan oralit atau minuman lain yang dapat dikonsumsi si kecil.

3. Lanjutkan pemberian makan seperti biasa, namun perlu menghindari makanan yang merangsang pencernaan, seperti makanan yang terlalu kecut atau pedas, dan makanan olahan yang mengandung penyedap, pewarna atau bahan tambahan lainnya.

4. Jangan memberikan antidiare pada anak.

Bawa segera si kecil ke RS atau layanan kesehatan terdekat bila:

1. Si kecil mengalami diare terus menerus selama 12 jam.

2. BAB mengandung darah.

3. Diare dengan disertai muntah.

4. Demam lebih dari 39 derajat celcius.

5. Lemas atau anak ingin tidur terus.

6. Ada tanda dehidrasi seperti telah disebutkan diatas.

Penyakit diare dapat dicegah dengan:

- Mencuci bahan makanan lebih teliti. Lebih baik mencuci dibawah air mengalir.

- Gunakan air yang telah dimasak hingga mendidih untuk membuat susu dan air minum.

- Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan setelah membersihkan BAB, untuk mencegah penularan ke anggota keluarga yang lain.

Monday, January 6, 2014

Demam Berdarah, Penyakit Musim Penghujan

Monday, January 06, 2014
Pada musim hujan terdapat beberapa penyakit yang sering menyerang anak, seperti Demam Berdarah, diare dan influenza.

Penyakit Demam berdarah disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan atau disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Demam berdarah banyak terdapat pada daerah beriklim tropis dan subtropis di seluruh dunia. Biasanya penyakit Demam berdarah muncul saat musim penghujan dimana keadaan lingkungan bersuhu lembab.

Gejala Demam berdarah yang paling sering ditemukan yaitu:

- Demam tinggi mendadak selama 2-7 hari.

- Nyeri kepala.

- Nyeri otot.

- Nyeri perut.

- Mual/muntah.

- Terdapatnya beberapa manifestasi perdarahan, seperti bercak merah pada kulit, mimisan, atau BAB hitam.

Bila lambat terdeteksi, demam berdarah dapat mengakibatkan keadaan syok, akibat bocornya pembuluh darah, yang akan menyebabkan kematian. Syok lebih sering terjadi pada bayi dan anak dengan angka kematian yang cukup tinggi.

Gejala penyakit Demam Berdarah hampir mirip dengan beberapa penyakit lainnya, seperti influenza, radang tenggorokan, thyfoid/ tipus, malaria, dan lainnya. Pada bayi dan anak kecil yang belum mampu mengutarakan keluhannya, demam menjadi gejala yang paling menonjol.

Oleh karena itu ketelitian pemeriksaan dan anamnesa yang tepat sangat dibutuhkan, karena seringkali dapat mengecoh.

Pemeriksaan darah sering merupakan alat pemeriksaan yang cukup baik untuk menentukan diagnosa Demam Berdarah.

Pengobatan

Tidak ada obat spesifik untuk terapi penyakit Demam Berdarah. Pasien hanya dianjurkan lebih banyak minum untuk menghindari dari keadaan dehidrasi akibat demam dan muntah yang berlebihan.

Pemberian obat penurun panas seperti Paracetamol sangat membantu mengurangi demam dan nyeri otot. Hindari pemberian penurun panas jenis Ibuprofen karena akan meningkatkan resiko perdarahan.

Apabila keadaan anak telah sangat lemah dan tidak mampu minum dengan kuat, lebih baik segera dilakukan penanganan lebih lanjut seperti rawat inap di RS untuk diberikan larutan elektrolit, mencegah keadaan yang lebih buruk seperti syok.

Pencegahan Demam Berdarah

Belum ada vaksin untuk mencegah penyakit Demam berdarah. Langkah yang dapat dilakukan dalam mencegah penyakit ini yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan albopictus.

Pengendalian nyamuk vector Demam berdarah dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, seperti menguras bak mandi minimal seminggu sekali, mengubur barang-barang bekas yang dapat digunakan sebagai sarang nyamuk Aedes untuk bertelur, menutup tempat penampungan air, dan lainnya.

Pengasapan atau fogging juga berguna untuk membunuh nyamuk Aedes dewasa. Sedangkan jentik nyamuk dapat dibasmi dengan pemberian bubuk abate pada tempat penampungan air.

Hindari gigitan nyamuk terutama saat pagi dan siang hari dengan menggunakan kelambu, obat anti nyamuk atau menggunakan pakaian yang tertutup.

Segera periksakan diri dan keluarga anda ke dokter bila terdapat tanda Demam berdarah seperti di atas.